Pernah ga sih kalian denger orang lain atau orang tua lu ngomong

"Jangan kebanyakan ketawa entar ujung-ujungnya nangis"

"Jangan terlalu bahagia entar kalau sakit sakitnya perih banget"

Mungkin kita pernah berpikir setiap mengalami peristiwa yang menyenangkan, hal buruk akan terjadi setelahnya?

Apa bener demikian?



CHEROPHOBIA.

Cherophobia itu berasal dari kata chero dan phobia. 

Chero yang berarti sukacita dan Phobia yang berarti ketakutan yang tidak logis atau berlebihan.

Cherophobia bisa diartikan yaitu ketakutan untuk bahagia. Biasanya orang-orang yang memiliki cherophobia menghindari aktivitas yang menyenangkan.

Cherophobia tidak dikategorikan sebagai gangguan jiwa. Beberapa ahli memasukkan cherophobia ini sebagai bentuk gangguan kecemasan. Tapi yang kita harus pahami, kecemasan yang berlebihan dapat membuat gangguan mental apabila kita membiarkannya terus menerus.

Rasa cemas memang hal yang umum dirasakan untuk bertahan hidup. Tetapi apabila kita memiliki kecemasan yang berlebihan akan mengalami ketakutan yang berlebihan padahal hal itu bukan ancaman.

Orang yang memiliki cherophobia menghindari rasa bahagia karena mereka berharap dapat mencegah hal buruk yang akan terjadi. Orang tersebut juga menghindari untuk mengungkapkan kebahagiaan mereka di hadapan orang lain karena mereka berpikir hal itu tidak baik. Orang dengan cherophobia cenderung menolak peluang yang mereka yakin dapat membuat perubahan positif dalam hidupnya karena takut akan hal buruk yang akan terjadi. Mereka memiliki mindset apabila merasa bahagia akan selalu ada hal buruk yang akan terjadi.

Contoh paling sederhana, orang yang memiliki cherophobia akan merasa cemas apabila harus datang ke event sosial yang menyenangkan misalnya reunian. Mereka merasa apabila mereka merasa bahagia di reunian tersebut akan ada peristiwa buruk yang akan menimpanya.

Kenapa sih hal-hal itu bisa terjadi?

·                 Cara kerja otak

Cara otak kita bekerja adalah asosiasi yaitu kita berpikir ketika satu hal terjadi maka hal lain akan terjadi. Contoh sederhananya adalah pas kecil kita pernah digonggongin anjing sampai anjing itu ngejar kita. Disana kita mengasosiasikan kalau gonggongan anjing itu adalah sebuah ancaman dan hal yang menakutkan. Berbeda dengan orang yang sudah terbiasa memelihara anjing di rumah dan misal anjingnya ga galak. Orang ini akan menganggap gonggongan anjing itu ya hal yang biasa. Netral-netral aja. Bukan hal yang menakutkan. 

·                 Pengalaman pahit

Konsep diatas itu berlaku juga pada seseorang yang memiliki cherophobia. Misalnya dulu saat dia sedang bermain dan merasa senang lalu dapat kabar misal saudara / keluarganya ada yang mengalami kecelakaan. Contoh lain, misal seseorang sedang bahagia pada acara perayaan kelulusannya tiba-tiba setelah acara selesai, dia ditelpon pacarnya terus pacarnya minta putus tanpa alasan yang jelas.

Akhirnya ya orang tersebut "mencocoklogikan" kalau abis mengalami peristiwa bahagia pasti setelah itu sial.

·                 Perasaan bersalah

Misal seseorang sedang mengalami peristiwa bahagia dan tiba-tiba ia mendengar berita kalau kerabat keluarganya ada yang tertimpa masalah berat. Orang tersebut secara tidak sadar akan merasa bersalah karena seolah-olah "bahagia" diatas penderitaan orang lain sehingga merasa tidak pantas untuk bahagia.

Kita harus sadari ada beberapa hal yang tidak bisa kontrol contohnya dalam kasus ini peristiwa-peristiwa yang akan terjadi setelah kita merasa bahagia. Jangan biasakan "mencocoklogikan" setelah bahagia dan tiba-tiba ada peristiwa tidak mengenakkan, kita langsung menyimpulkan kalau memang benar peristiwa buruk akan terjadi setelah bahagia. Karena ya siapa yang tahu? Banyak hal ada diluar kontrol kita.

Jangan pernah merasa tidak pantas untuk bahagia. Takut untuk bahagia. Cemas untuk bahagia.

Semua orang berhak untuk merasakan dan merayakan kebahagiaan mereka masing-masing dalam hidupnya.

Kita bisa melakukan aktivitas bahagia setelah mengalami peristiwa bahagia supaya kita dapat melatih pikiran kita untuk membentuk asosiasi baru tentang kebahagiaan ini.

"Bahwa kebahagiaan itu tidak menandakan akan ada peristiwa buruk yang akan terjadi."

Yakinkan diri kita juga bahwa trauma-trauma masa lalu itu ga nentuin kebahagiaan yang kita rasakan saat ini dan di masa yang akan datang.

Yakinkan diri kita bahwa setiap orang pantas untuk mengalami, merasa, merayakan kebahagiaan di hidupnya masing-masing.

Terima kasih!