Quote
Sewajarnya Hidup, Hidup Sewajarnya
Beberapa waktu lalu sempat heboh akun finansial advisor yang menyorot betapa mahalnya biaya punya anak dalam satu tahun saja. Membuat tak sedikit yang menanggapi takut punya anak karena 'jiper' dulu lihat biayanya. Ada di angka ratusan juta, pertahunnya. Ini baru satu anak, di tahun pertama. Belum dua, tiga, empat.
Soal punya anak, kalau mau dihitung rasa-rasanya memang banyak juga ‘pengeluaran’ ketika memiliki anak. Apalagi kalau lihat list persiapan persalinan, masih soal awal dia ada di dunia saja bisa banyak sekali printilannya. Belum lagi seiring bertambahnya usia, lihat biaya masuk sekolah, mainan kekinian, buku-buku impor, penyaluran hobi, pendidikan non formal seperti les, ngaji, waah banyak banget...
Ya secara logika seiring bertambahnya anggota keuarga, juga akan bertambah kebutuhan kita. Apalagi anak zaman sekarang. Tetapi di dalam hidup ini, ada hal-hal yang kadang nggak masuk logika kita. Kalau dihitung pemasukan juga nggak tinggi-tinggi amat angkanya, nggak sampai digit berjejer rapi, tapi adaaa saja jalannya. Anak-anak nggak ada yang keleleran.
Pengelolaan finansial sah-sah saja, malah bagus menghindarkan kita dari berhutang dan menyulitkan orang lain. Tapi satu yang perlu kita ingat, hidup kita ini nggak semuanya tentang materi. Dunia ini nggak sesempit kamu punya uang berapa dan seberapa ‘kaya’ kamu. Punya anak nggak soal transaksional: anak dikaitkan sebagai aset, investasi, atau bahkan beban. Ada soal tujuan kita hidup di dunia, ada tentang keberkahan, ada rahmatNya yang menolong, ada hal-hal tak kasat mata yang tidak bisa ditakar, dihitung, bahkan diuangkan.
Nggak ada satu manusiapun yang ditelantarkan olehNya. Dan benar bahwa masing-masing dari kita sudah ada rezekinya masing-masing, datangnya dari pintu yang tidak diduga-duga. Tugas kita berikhtiar yang terbaik.
Saat sedang berencana memiliki anak, atau dalam perjalanan memiliki anak, boleh saja rasanya menghitung kira-kira berapa biaya yang akan kita habiskan. Sembari kita berupaya maksimal membuka banyak 'keran' baru, menjadikan amanah ini bisa baik terurus dalam asuhan kita.
Tapi jangan lupa untuk berserah. Ada tanganNya yang Maha Mencukupi. Semua datang dariNya. Berserah atau tawakkal membuat hati kita lembut, membuat kita semakin percaya ada Allah yang mengatur segalanya, tak pantas kita menuhankan uang bahkan menuhankan pengelolaan finansial. Semua atas izinNya.
Jika biaya hidup di masa kini terasa berat, mungkin selama ini yang kita lupa adalah selalu merasa cukup. Kita ingin yang lebih, lebih, dan lebih. Melihat terus ke atas, mematok gaya hidup orang-orang yang kelasnya jauh di atas kita. Padahal kita bisa hidup lebih tenang jika mematok hidup sesuai kemampuan kita.
rasa-rasanya di kehidupan serba modern ini, memiliki rasa cukup lebih mewah dibandingkan memiliki kekayaan.
Secara teknisnya begini, jika ada orang yang bisa melahirkan dengan biaya 80 juta, kita secara kemampuan belum mampu ya tidak perlu memaksakan menggunakan standar itu, ada opsi biaya-biaya di bawahnya. Ada fasilitas puskesmas untuk kontrol kehamilan, ada pula BPJS, jika tidak mengambil BPJS ada Rumah sakit bersalin/klinik lain yang angkanya tak sebombastis faskes para artis yang bahkan terkadang mereka dibayar untuk bersalin disana.
Tak perlu memakai doula jika tak mampu, masih banyak bidan baik yang bisa menemani, ada anggota keluarga juga yang bisa diajak bekerjasama. Tak usah memaksa memanggil videografer kelahiran jika budgetmu mepet terlebih itu bukan kebutuhanmu. Bukannya yang terpenting dari kelahiran anak adalah keselamatan dan kenyamanan saat dan pasca bersalin?
Tak harus berhutang berjuta-juta demi memasukkan anakmu ke sekolah mahal. Mungkin privilej mereka tidak pada networking yang baik di sekolah itu, tetapi orangtua yang terus berupaya anaknya mendapatkan pendidikan yang layak di dalam maupun di luar rumah.
Tapi jangan lupa untuk berserah. Ada tanganNya yang Maha Mencukupi. Semua datang dariNya. Berserah atau tawakkal membuat hati kita lembut, membuat kita semakin percaya ada Allah yang mengatur segalanya, tak pantas kita menuhankan uang bahkan menuhankan pengelolaan finansial. Semua atas izinNya.
Jika biaya hidup di masa kini terasa berat, mungkin selama ini yang kita lupa adalah selalu merasa cukup. Kita ingin yang lebih, lebih, dan lebih. Melihat terus ke atas, mematok gaya hidup orang-orang yang kelasnya jauh di atas kita. Padahal kita bisa hidup lebih tenang jika mematok hidup sesuai kemampuan kita.
rasa-rasanya di kehidupan serba modern ini, memiliki rasa cukup lebih mewah dibandingkan memiliki kekayaan.
Secara teknisnya begini, jika ada orang yang bisa melahirkan dengan biaya 80 juta, kita secara kemampuan belum mampu ya tidak perlu memaksakan menggunakan standar itu, ada opsi biaya-biaya di bawahnya. Ada fasilitas puskesmas untuk kontrol kehamilan, ada pula BPJS, jika tidak mengambil BPJS ada Rumah sakit bersalin/klinik lain yang angkanya tak sebombastis faskes para artis yang bahkan terkadang mereka dibayar untuk bersalin disana.
Tak perlu memakai doula jika tak mampu, masih banyak bidan baik yang bisa menemani, ada anggota keluarga juga yang bisa diajak bekerjasama. Tak usah memaksa memanggil videografer kelahiran jika budgetmu mepet terlebih itu bukan kebutuhanmu. Bukannya yang terpenting dari kelahiran anak adalah keselamatan dan kenyamanan saat dan pasca bersalin?
Tak harus berhutang berjuta-juta demi memasukkan anakmu ke sekolah mahal. Mungkin privilej mereka tidak pada networking yang baik di sekolah itu, tetapi orangtua yang terus berupaya anaknya mendapatkan pendidikan yang layak di dalam maupun di luar rumah.
Tak harus berhutang berjuta-juta demi memasukkan anakmu ke sekolah mahal. Mungkin privilej mereka tidak pada networking yang baik di sekolah itu, tetapi orangtua yang terus berupaya anaknya mendapatkan pendidikan yang layak di dalam maupun di luar rumah.
Memiliki mainan edukasi yang terkurasi para mamagram atau psikolog sebenarnya baik, tetapi jika kita tidak mampu memfasilitasi anak-anak dengan itu bukan berarti kita orangtua yang gagal kan? Ada banyak opsi lain, bisa beli mainan lain yang gradenya di bawah itu, menyewa, atau tidak menbelinya juga tidak apa-apa kan? Yang penting adalah terpantau tumbuh kembangnya--dan tentunya tumbuh kembang dompetmu.
Kita bisa tetap hidup meski tidak bisa beli baju merk ternama, kan? Anak-anak bisa tetap makan, meski alat memasaknya dari alat-alat sewajarnya yang beli di pasar, kan? Anak-anak bisa tetap main meski takpunya playground di rumah, kan?
Terkadang hidup ini sebenarnya sederhana, yang membuatnya rumit adalah gaya hidup dan berjalan di atas standar orang lain.
Memiliki anak apakah mahal? Ya bisa jadi, tapi bukannya setiap anak punya rezekinya sendiri? Bukankah kita bisa berikhtiar? Bukankah selalu merasa cukup itu hal yang bisa dimiliki setiap orang?
Lagi-lagi hiduplah sewajarnya saja...
#selfreminder
#menjelangdinihari
Memiliki mainan edukasi yang terkurasi para mamagram atau psikolog sebenarnya baik, tetapi jika kita tidak mampu memfasilitasi anak-anak dengan itu bukan berarti kita orangtua yang gagal kan? Ada banyak opsi lain, bisa beli mainan lain yang gradenya di bawah itu, menyewa, atau tidak menbelinya juga tidak apa-apa kan? Yang penting adalah terpantau tumbuh kembangnya--dan tentunya tumbuh kembang dompetmu.
Kita bisa tetap hidup meski tidak bisa beli baju merk ternama, kan? Anak-anak bisa tetap makan, meski alat memasaknya dari alat-alat sewajarnya yang beli di pasar, kan? Anak-anak bisa tetap main meski takpunya playground di rumah, kan?
Terkadang hidup ini sebenarnya sederhana, yang membuatnya rumit adalah gaya hidup dan berjalan di atas standar orang lain.
Memiliki anak apakah mahal? Ya bisa jadi, tapi bukannya setiap anak punya rezekinya sendiri? Bukankah kita bisa berikhtiar? Bukankah selalu merasa cukup itu hal yang bisa dimiliki setiap orang?
Lagi-lagi hiduplah sewajarnya saja...
#selfreminder
#menjelangdinihari

Posting Komentar
0 Komentar